Sunday, October 25, 2009

Harry Potter and The Half Blood Jews

Harry Potter and The Half Blood Jews. Atau Harry Potter dan Yahudi Berdarah Campuran. Begitu bunyi plesetan yang sekarang tengah banyak beredar di AS dan Barat, sehubungan dengan film terbaru Harry Potter yang baru dirilis, “Harry Potter and The Half Blood Prince”. Diangkat dari novel dengan judul yang sama, film ini hanya dalam waktu satu hari saja sudah memecahkan rekor box office dengan mengeruk keuntungan yang melebihi film-film lainnya dan segera saja menyedot perhatian dunia.
Buku dan film keenam Harry Potter ini disinyalir banyak berhubungan dengan Yahudi. Seperti buku “Potter” J.K. Rowling lainnya yang terjual jutaan kopi—“Prince” (atau pangeran) biasanya dihubungkan sebagai metafora untuk rasisme dan pembersihan etnik, termasuk tokoh-tokoh yang mengacu pada “pure-bloods” (darah murni), “half-bloods” (darah campuran) atau mudblood (hinaan rasis yang ditujukan pada mereka dalam cerita Harry Potter yang tidak dilahirkan dari keluarga penyihir).
Dalam film barunya, diceritakan bagaimana Lord Voldermort (salah satu tokoh sentral dalam Harry Potter sekaligus musuh besarnya) menjalani masa kecilnya dan kemudian berubah menjadi pembantai keji orang-orang yang tak bisa sihir (muggles). Menurut David Heyman, produser Potter kelahiran Inggris, semua tindakan Lord Voldemort dan pengikutnya mirip seperti Nazi Jerman. “(Mereka semua) seperti bangsa Arya dalam pemikiran Hitler.”
Daniel Radcliffe—pemeran Harry Potter sejak film pertama—adalah keturunan Yahudi, berasal dari ibunya, dan Daniel sendiri sudah menyatakan kalau ia seorang Yahudi. Heyman sendiri sama dengan Radcliffe, adalah seorang keturunan Yahudi. Ia bahkan telah membuat sebuah film tentang Holocaust di tahun 2008 berjudul “The Boy in the Striped Pajamas.”
Helena Bonham Carter, memerankan Pelahap Maut Bellatrix Lestrange juga seorang Yahudi yang berasal dari ibunya. Jason Isaacs, juga Pelahap Maut memerankan Lucius Malfoy, adalah seorang Yahudi. Isaacs mengatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan apakah ia akan menyatakan ia seorang Yahudi ataukah tidak, berkaitan dengan karirnya.
Harry Potter seorang Yahudi
Pada tahun 2005, pada 29-31 Juli, sekitar 250 orang penggemar Potter bahkan berkumpul di Reading Universitas, Inggris, mendiskusikan bahwa Harry Potter adalah seorang anak lelaki Yahudi. Presenter Amy Miller mengatakan bahwa Harry Potter mempunyai nama Yahudi “has a yiddishe neshama” atau berarti seorang anak lelaki Yahudi yang baik. “Dia memang tidak mengenakan topi khas Yahudi, tidak bersekolah di Hebron, atau tidak melaksanakan kosher (makanan Yahudi), tapi dia sangat peduli terhadap orang lain, baik, dan mempertahankan keyakinannya. Ini adalah gambaran tentang sikap Yahudi yang sesungguhnya.”
Diskusi akademik yang lain juga terjadi mengenai cara dan jalan hidup Potter. Menurut Cia Soutter, perkembangan Harry sama dengan kabbala, “pohon kehidupan.” Sedangkan Gila Bar Hilel, penerjemah buku-buku Harry Potter dalam bahasa Israel, mengatakan, “Saya tidak berpikir bahwa orang akan mengklaim Harry Potter seorang Yahudi. Tapi jika harus serius, semuanya itu menyenangkan.” (sa/jewishjournal/ynet)

The Great Of 'Tulip'

Bunga tulip selalu diidentikkan dengan negara Belanda. Ribuan wisatawan datang ke Belanda hanya untuk mengagumi bunga yang cantik dan berwarna cerah ini, yang banyak ditanam di taman-taman negara Kincir Angin itu. Kota Keukenhof di Belanda, setiap tahunnya bahkan dikunjungi sekitar 800.000 orang dari seluruh dunia yang ingin menyaksikan keindahan aneka bunga tulip dalam Festival Tulip yang diselenggarakan setiap tahun di kota itu. Tak heran masih banyak orang yang beranggapan bahwa bunga tulip adalah bunga asli dari Belanda.
Bunga tulip sebenarnya bukan bunga asli Belanda, karena sebenarnya bunga ini berasal dari Asia Tengah dan Belanda sebenarnya berhutang budi pada kekhalifahan Islam Ustmaniyah di Turki, karena atas peran kekhilafahan Islam inilah Belanda sekarang jadi terkenal karena bunga tulipnya.
Bunga tulip sebenarnya bunga liar yang tumbuh di kawasan Asia Tengah. Orang-orang Turki yang pertama kali membudidayakan bunga ini pada di awal tahun 1000-an dan pada masa pemerintahan kekhalifahan Ustmaniyah, terutama pada masa kekuasaan Sultan Ahmed III (1703-1730) bunga tulip berperan penting, sehingga masa Sultan Ahmed III disebut juga sebagai "Era Bunga Tulip."
Pada masa itu, istana Sultan memiliki sebuah dewan khusus untuk membudidayakan bunga-bunga tulip. Dewan itu dipimpin oleh seorang Turki yang juga kepala perangkai bunga istana yang tugasnya memberikan penilaian pada kualitas berbagai jenis bunga tulip dan memberikan nama yang indah dan puitis bagi bunga-bunga itu antara lain dengan nama "Those that burn the heart", "Matchless Pearl", "Rose of colored Glass", "Increaser of Joy", "Big Scarlet", "Star of Felicity", "Diamond Envy", or "Light of the Mind".
Hanya bunga-bunga yang memiliki kualitas sempurna yang dimasukkan dalam daftar jenis-jenis bunga tulip itu, yaitu bunga tulip yang memenuhi standar dari ukuran tinggi dan kerampingan kelopak bunganya, bentuk helaian kelopaknya lancip dan jarak antar helaiannya sempit. Helaian kelopaknya harus halus tapi kuat, satu warna, ukuran lebar dan panjangnya pas. Tiga ratus tahun kemudian, komunitas holtikultura Belanda dan Inggris mengajukan baru memikirkan untuk melakukan klasifikasi bunga tulip yang sudah dilakukan jauh sebelumnya oleh ahli perangkai bunga Turki di kesultanan Ahmed III.
Bunga tulip baru dikenal di Belanda pada abad ke-16 dan menjadi sangat populer di kalangan masyarakat kelas atas di negeri itu. Kata "tulip" sendiri berasal dari bahasa Turki yang artinya "sorban", semacam kain yang dililit untuk menutupi kepala. Tidak diketahui kapan persisnya negara Kincir Angin itu mulai membudidayakan bunga tulip itu, tapi disebut-sebut bunga tulip mulai dibawa ke Belanda pada sekitar tahun 1550-an oleh kapal-kapal yang berasal dari Istanbul.
Dokumentasi pertama tentang penanaman bunga tulip bertahun 1954 di Kebun Raya Universitas Leiden. Menurut catatan itu, bunga tulip yang ditanam di kebun raya universitas Leiden dibawa oleh Carolus Clusius dari Wina, Austria, penanggungjawab taman istana di Austria. Ketika itu, pengaruh budaya Turki sangat kuat di Austria terutama dari gaya berpakaian yang oriental dan tradisi minum kopi.
Memasuki abad ke-17, perekonomian Belanda tumbuh pesat dan memicu persaingan antara pecinta bunga tulip. Mereka berlomba-lomba mencari bunga tulip yang paling indah dan tidak segan-segan membayar dengan harga mahal untuk membeli bunga tulip itu. Harga bunga tulip di Belanda pun makin mahal, bahkan kabarnya ada jenis bunga tulip yang harganya sama dengan harga sebuah rumah. Tahun 1635, satu set bunga tulip yang berjumlah 40 tangkai dijual dengan harga 100.000 florin, bandingkan dengan pendapatan kalangan kelas menengah pada masa itu di Belanda yang hanya 150 florin.
Tahun 1636, usaha bunga tulip menjadi salah satu bisnis yang perdagangan yang masuk dalam bursa saham dan diminati banyak orang. Kalangan pengusaha rela menjual tanah, rumah dan harta bendanya untuk berinvestasi di bisnis bungan tulip. Jenis bunga tulip yang sangat terkenal saat itu adalah jenis tulip yang bernama Viceroy, yang harganya bisa ribuan florin. Belanda menyebut fenomena "demam tulip" ini sebagai fenomena "wind trade" (perdagangan kontrak tulip) yang murni dilakukan dengan spekulasi. Ironisnya, masa keemasan bisnis bunga tulip di Belanda hanya berlangsung setahun, karena pada tahun 1637 pasar bunga tulip jatuh dan harga bunga tulip ikut melorot.
Sampai hari ini, istilah "tulip mania" atau "tulipomania" atau "kegilaan tulip" masih digunakan sebagai istilah untuk menggambarkan goncangnya perekonomian karena munculnya spekulan terhadap sesuatu trend bisnis yang sifatnya untung-untungan. Meski cerita di balik "tulip mania" ini sedikit memalukan, tapi Belanda tetap mencintai tulip dan banyak orang yang tak ingat bahwa tulip-tulip yang indah dan cantik itu hasil budidaya dari jaman kekhilafahan Islam Turki Utsmani. (ln/isc)


Friday, July 3, 2009

Are You Still Confusing With Your President Choice??

Dalam hitungan jari kita akan menentukan siapa yang menjadi Presiden yang akan memimpin negara kita selama lima tahun ke depan, dengan cara memberikan suara di Pilpres 2009. Jika kita merasa bingung dalam menentukan pilihan, setelah kita disodorkan dalam menentukan siapa wakil kita di parlemen, yang lalu. Penulis akan sajikan sajian sebagai pencerahan untuk membantu dalam menentukan pilihan kita. Penulis kutip dari Newsletter Pemuda Persis, vol.4/Mei-Juni/2009. Penulis sarankan agar pembaca dapat membacanya secara tuntas. Selamat Membaca!

PILPRES 2009 dan PERSIS

Terlalu besar jasa umat islam bagi tegaknya negara-bangsa Indonesia. Baik itu sebagai daya rekat (kohesi) antar suku bangsa sehingga bisa bersatu, maupun dalam konteks perjuangan melawan penjajah sekaligus mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara-bangsa Indonesia. begitupun dengan para founding fathers Persatuan Islam (PERSIS). Mereka pun bergiat dalam proses pembentukan negara ini. Bapak-bapak kita turut berjuang mempertahankan kemerdekaan kedaulatan negara ini, bahkan dengan taruhan nyawa. Putra-putra terbaik PERSIS turut serta dalam hingar-bingar pentas politik negeri ini. Bahkan, Bapak M. Natsier pernah menjadi pemimpin negeri ini.

Oleh karena itu tidak heran jika PERSIS terus-menerus berusaha memperjuangkan syariat Islam di negeri ini. Termasuk turut serta dalam proses pesta demokrasi. Bagi PERSIS demokrasi bukanlah ideology apalagi tujuan, melainkan hanya sebagai alat untuk berdakwah. Bukanlah dakwah (serta pendidikan) itulah yang menjadi platform organisasi kita ini? Dalam konteks berdakwah itu pulalah kita turut-berkontribusi dalam pesta demokrasi sekarang ini. Bukan semata-mata mengejar kekuasaan, atau ingin kebahagiaan "harta ghanimah".

Kini, Pilpres 2009 telah hadir di depan kita. Ada tiga pasang calon Presiden dan wakil Presiden yang telah resmi terdaftar di KPU. Mereka adalah Megawati-Prabowo (No. Urut 1); Susilo Bambang Yudhoyono-Budhiono (No. Urut 2); dan M. Jusuf Kalla-Wiranto (No. Urut 3). Masing-masing lengkap dengan partai-partai politik pendukungnya. Dari 9 partai yang lolos parliamentary threshold (PT) 2,5 persen, PDI-Perjuangan serta Partai Gerindra adalah pengusung pasangan yang disebut Mega-Pro, sedangkan Partai Demokrat, PKS dan PKB sudah tegas berada dibelakang pasangan SBY-Budhiono. Di lain pihak, JK-Wiranto di usung oleh Partai Golkar dan Partai Hanura. Sementara PAN dan PPP terpecah, ada yang ke SBY-Budhiono, ada juga yang ke JK-Wiranto. Tidak ketinggalan dengan partai-partai kecil yang tidak lolos PT 2,5 persen, saling berebutan untuk mendapat tempat di ketiga pasangan calon itu. Partai Bulan Bintang (PBB), misalnya, Ketua Umumnya yang juga menjadi menteri, sudah dari awal merapat ke SBY. Entah sebagai balas budi atau karena ingin jadi menjadi menteri lagi, Wallahu A'lam. Yang jelas selain sudah tamat riwayatnya, PBB juga pecah. Petingginya yang lain, seperti Ketua Umum Dachlan Hamid serta Ali Muchtar Ngabalin, justru menjadi tim sukses JK-Wiranto. Itu memang "lumrah" dalam dunia politik, selalu begitu.

Pesta demokrasi bukan hanya milik partai politik, tetapi juga milik masyarakat pada umumnya. Individu-individu berebut "tumpeng" yang disediakan di pesta ini. Memang, benar-benar hajatan politik yang besar. Ekonomi yang real namun sesaat berjalan. Dari mulai iklan, bisnis atribut kampanye, hingga bagi-bagi rezeki secara langsung, dengan imbalan dukungan suara. Milyaran, bahkan sangat mungkin mencapai trilyunan rupiah keluar dan langsung menyebar di masyarakat. Tak bisa dibantah itu semua terjadi dilapangan, termasuk money politic tetapi tentu saja secara diam-diam dan canggih. Walaupun bukan pendidikan politik yang baik, tetapi setidaknya masyarakat umum dapat merasakan dan menikmatinya secara gratis.

Tidak ketinggalan dengan Organisasi-organisasi masyarakat (Ormas). Ada Ormas yang berdiri tiba-tiba atau sengaja didirikan untuk mendukung salah satu calon. Jaringan Nusantara misalnya di bentuk sebagai bagian tim sukses SBY. Demikian juga organisasi Freedom Institute, Fox Indonesia, Group Tempo menjadi bagian dari SBY. Tersiar kabar, para pengusaha kelas kakap turut berada dibelakang para calon. Para kapitalis ini terutama berada di belakang pasangan SBY-Budhiono.

Termasuk Ormas-ormas Islam besar, semacam Nahdzatul 'Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Walaupun secara organisatoris, NU dan Muhammadiyah menyatakan netral, namun jelas mereka berada di belakang pasangan JK-Wiranto. Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi, misalnya secara tersirat mendukung Jk-Wiranto. Demikian juga dengan Prof. Dien Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah. Bahkan ketua umum muhammadiyah ini sampai-sampai mengkampanyekan khususnya Jusuf Kalla di markasnya. Hal ini tidak aneh, sebab Jusuf Kalla adalah aktivis Mustayar NU Sulawesi Selatan. Disamping itu, secara rutin Jusuf Kalla menyumbang tiap bulan bagi kedua organisasi tersebut. Khususnya Muhammadiyah punya "hutang budi", ketika Bank Persyarikatan Muhammadiyah kolaps dan akan disita asetnya. Baik Amin Rais, Dien Syamsuddin, semuanya sudah angkat tangan. Untunglah keluarga besar Jusuf Kalla turun tangan turut menyumbang, hingga selamatlah "muka" Muhammadiyah.

SIKAP KITA!

Sebagaimana diketahui, secara normative PERSIS telah mengeluarkan fatwa "Haram mengangkat pemimpin perempuan", berdasarkan dalil hadits Nabi Saw. bahwa "Akan hancur suatu kaum jika dipimpin oleh perempuan". Oleh karena itu, meyakini dalil naqli tersebut, maka jelaslah pasangan "Mega-Pro" tidak termasuk pilihan bagi warga PERSIS. Jadi, pilihannya hanya tinggal dua; SBY-Budhiono atau JK-Wiranto. Lalu, siapakah yang akan kita pilih? Atau bagaimanakah sikap kita terhadap Pilpres ini, Golput atau memilih diantara kedua pilihan tersebut?

Kita tidak bisa gegabah. Pada tanggal 7 juni 2009, PERSIS akhirnya memutuskan untuk turut berkontribusi dalam Pilpres ini. Walaupun tidak secara terbuka, karena sebagai organisasi amar ma'ruf nahi munkar, PERSIS bukan bagian dari partai politik tertentu. Walaupun demikian dalam musyawarah di hadiri oleh para pengurus PW dan PD, hampir semua Jubir-jubir dari masing-masing PW dan PD menyatakan dukungannya kepada JK-WIN.

APA ALASANNYA?

Alasannya dari para PW dan PD. Pertama, pasangan JK-WIN, khususnya JK bukan orang baru dalam gerakan Islam, membantu Muhammadiyah dan NU baik moril maupun materil, sudah menjadi rahasia umum. Kedua, mengizinkan istriya untuk menggunakan Jilbab adalah indikasi positif dari pemikiran keduanya terhadap ajaran islam. Ketiga, terkait dengan lingkaran pendukungan pasangan calon. Jika kelompok disekeliling SBY-Budhiono adalah kelompok Freedom Institute, Group Kompas, Group Tempo dan juga JIL (Jaringan Islam Liberal) yang selama ini dikenal anti syari'at Islam, sementara di pihak JK-WIN justru berkumpul Ormas-ormas Islam seperti MUI, Muhammadiyah, NU, Al-Irsyad, dll.

Secara individu, SBY apalagi Budhiono tidak punya track-record membantu Ormas, apalagi Ormas Islam. Sebaliknya dengan JK, zakat JK selaku pengusaha sudah menyebar ke seluruh Ormas Islam, termasuk PERSIS setidaknya berbentuk "paket lebaran". Hal ini tidak aneh, SBY memang tidak termasuk "ABRI Hijau". Apalagi dengan pasangan Budhiono. Disamping ia dikenal sebagai mantan pegawai di Komunitas Neo-Liberal, ia juga disinyalir tidak memperhatikan masalah syari'at Islam. Orang-orang misalnya bertanya-tanya, mengapa dengan kekayaan yang besar, ia tidak menunaikan ibadah haji? Padahal hukumnya adalah wajib. Lucunya, tim sukses SBY bereaksi dengan mengundang para wartawan meliput Budhiono shalat Jum'at. Mengapa perkara ibadah ritual dipolitisasi? Ada apa sebenarnya? Demikia juga, tiba-tiba dalam salah satu acara Bu Ani SBY berjilbab dengan rapih, agar bisa diliput wartawan. Anehnya selepas acara, ia melepaskan jilbabnya. Lho?!

Berbeda misalnya dengan pasangan JK-WIN yang istri-istrinya berjilbab, sehingga menarik perhatian komunitas muslim. Semuanya berlangsung alamiah, tanpa maksud berkampanye, karena memang mereka berjilbab sejak dulu. Jika bagi akhi Tifatul Sembiring yang menjabat ketua DPP PKS, "apalah arti selembar kain, tidak ada korelasinya dengan masalah penyelesaian masalah ekonomi", bagi PERSIS "Selembar kain itu" justru masalah utama. Perjalanan dakwah agar kaum muslimat menggunakan jilbab adalah perjalanan dakwah yang panjang yang dihiasi dengan berbagai pengorbanan. Ingat bagaimana di era dekade 1980-an akhwat-akhwat kita menjadi korban dalam perjalanan dakwah. Hari ini kita melihat ibu-ibu pendamping calon pemimpin negeri ini menggunakan jilbab. Bukankah itu karya buah tangan kita semua?!. Sampai-sampai salah seorang petinggi PP Pemuda PERSIS mendesah, "Saya seakan-akan melihat mereka adalah ibu-ibu Persistri, bukan istri calon presiden dan wakil presiden. Mereka begitu tegar, berani melaksanakan syari'at Islam ditengah suasana protokoler pejabat, gemerlap kekuasaan dan kemewahan. Tak sampai hati rasanya membiarkan mereka berjalan sendiri tanpa kita dukung". Ada lagi yang mengatakan, "Tuh batur geus wani ngalaksanakan syari'at Islam, piraku urang dek cicing wae?!". Itulah mungkin mengapa PKS yang mendukung SBY, tapi banyak anggotanya yang justru bersimpati pada JK-Wiranto.

Insya Allah dengan idzin Allah, Indonesia akan lebih baik. Tentunya bukan hanya dukungan taqlid-buta, tapi secara rasional dan juga menjaga tetap kritis berdasarkan pada paradigma Amar Ma'ruf Nahi Munkar. MARI KITA SELAMATKAN INDONESIA. MARI KITA TEGAKKAN SYARI'AT ISLAM!!!

Kutipan : Newsletter Pemuda Persis

Vol.4/Mei-Juni/2009

__________

©July2009